Hamas-Iran Bikin Pertumbuhan kegiatan ekonomi tanah Israel Melambat

JAKARTA – Perekonomian ekonomi israel melambat pada kuartal kedua tahun ini. Perang dengan kelompok gerakan Hamas menimbulkan negara Israel gagal mempertahankan pemulihan.
Perang selama berbulan-bulan dengan kelompok organisasi Hamas memberikan dampak buruk pada ekspor dan juga investasi.
Produk domestik bruto (PDB) bertambah sebesar 1,2% secara tahunan pada periode April hingga Juni dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Dan turun 1,4% dibandingkan kuartal yang tersebut identik tahun lalu, menurut bilangan bulat awal yang diterbitkan oleh Biro Statistik Pusat tanah Israel pada Minggu.
Melansir dari times of Isreal, bilangan bulat yang disebutkan berada dalam bawah ekspektasi para ekonom yang berkisar antara 2,3% hingga 5%. Sementara itu, secara per kapita, jikalau disesuaikan dengan pertumbuhan penduduk, Produk Domestik Bruto mengalami kontraksi sebesar 0,4% pada kuartal kedua.
“Produk domestik bruto per kapita menyusut dibandingkan kuartal sebelumnya dan juga dibandingkan kuartal yang digunakan sebanding tahun lalu, bilangan bulat yang dimaksud jelas menunjukkan kehancuran signifikan akibat peperangan yang sedang berlangsung terhadap perekonomian,” kata kepala ekonom bursa Bank Mizrahi Tefahot Ronen Menachem.
Selama kuartal kedua, produksi kegiatan bisnis turun 1,9% dikarenakan ekspor barang serta jasa turun 8,3%, menurut data biro statistik. Pengembangan Usaha pada aset tetap memperlihatkan hanya saja meningkat sebesar 1,1%.
“Pertumbuhan Ekonomi Nasional mengecewakan pada kuartal kedua dikarenakan kontraksi ekspor (barang serta jasa) dan juga lemahnya investasi,” kata Jonathan Katz, kepala ekonom dalam Leader Capital Markets.
Bersamaan dengan pertempuran di area Gaza, sekutu kelompok Hamas yang mana didukung Iran, Hizbullah, melancarkan serangan roket setiap hari ke negara Israel utara selama 10 bulan terakhir. Baku tembak dengan pasukan tanah Israel lalu memicu perasaan khawatir bahwa serangan kelompok yang disebutkan dapat meningkat menjadi pertempuran besar-besaran.
Puluhan ribu penduduk di area dekat perbatasan Israel-Lebanon telah lama mengungsi akibat kekerasan tersebut, dan juga situasi keamanan sudah mengganggu aktivitas tenaga kerja kemudian usaha di dalam komunitas selatan lalu utara.





