Negeri Paman Sam Paksa Gencatan Senjata di area Gaza, Harga Minyak Global Ambrol

JAKARTA – Harga minyak turun mendekati level terendahnya tahun ini pada Selasa (20/8) menyusul meningkatnya harapan gencatan senjata pertempuran Israel-Hamas.
Harga minyak mentah Brent turun tipis 1,03% menjadi USD76,8 per barel pagi ini turun 4,39% sepekan serta 6,37% secara bulanan. Harga yang disebutkan mendekati titik terendah tahun ini di area USD75,90 per barel yang digunakan terlihat pada tanggal 2 Januari.
Baca Juga: Amerika Serikat Ancam Israel, Blinken: Ini adalah Kesempatan Terakhir untuk Genjata Senjata
Harga minyak mentah turun 1,05% menjadi USD72,8 per barel. Hal ini merupakan penurunan sebesar 6,56% pada minggu ini lalu 6,62% bulan ini. Di sisi lain, nilai tukar gas alam berkinerja lebih besar baik, naik 3,84% minggu ini juga diperdagangkan pada USD2,2 per MMBTU demikian juga nilai tukar gas TTF juga meningkat, naik 0,94% hari ini.
Harapan gencatan senjata terkait konflik Israel-Hamas telah dilakukan meningkat, setelahnya negara Israel baru-baru ini menerima proposal penghubung yang digunakan diusulkan oleh AS. Namun, gerakan Hamas belum melakukan hal yang sama. Ada beberapa poin perbedaan yang mana harus diselesaikan. Ini adalah termasuk kebebasan bergerak bagi warga Palestina, juga diperkenalkan militer tanah Israel di tempat Gaza.
Sebelum pembicaraan dengan Presiden Israel, Isaac Herzog, Menteri Luar Negeri Negeri Paman Sam Antony Blinken menyoroti pentingnya kedua belah pihak untuk menyetujui gencatan senjata. Melansir Euronews, ada tekanan yang meningkat bagi kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan yang digunakan diisyaratkan oleh Blinken selama pembicaraan dengan negara Israel sebagai prioritas utama.
Baca Juga: Harga Minyak Mendidih Usai Pemimpin gerakan Hamas Ismail Haniyeh Terbunuh di dalam Iran
Tidak belaka itu, perusahaan-perusahaan energi berada di tempat bawah tekanan akibat nilai tukar minyak jatuh. Pelemahan nilai tukar minyak juga membebani saham-saham perusahaan energi yang dimaksud semakin diperburuk oleh permintaan China yang mana masih lemah. Hal ini teristimewa disebabkan oleh perekonomian China yang digunakan mengalami peningkatan yang dimaksud lebih lanjut lemah dengan tingkat pengangguran yang tersebut lebih banyak tinggi dan juga pernurunan produksi sektor






